Jumat, 18 April 2014

ta'aruf atau pacaran..??

Ta’aruf diartikan sebagai perkenalan. Namun dalam praktek sehari-hari ada yang menggunakan kata taaruf sebagai suatu proses sebelum ikhwan dan akhwat menjalani pernikahan. Dalam taaruf, mereka saling mengenalkan keadaan diri masing-masing, bila cocok bisa dilanjutkan ke proses khitbah dan bila tidak maka proses akan dihentikan. Mungkin seperti itu secara sederhananya, walaupun pada prakteknya bisa begitu rumit dan kompleks.
Pacaran adalah suatu hubungan dekat yang dibuat oleh 2 orang (biasanya lawan jenis) tanpa ada ikatan resmi. Biasanya pacaran dilakukan karena adanya rasa saling suka. Dalam pacaran kadang disertai aktivitas yang terlalu intim dan dilarang agama, namun ada juga yang masih bisa menjaga dirinya masing2. Dalam hubungan pacaran, bisa jadi ada rencana pernikahan, namun kebanyakan belum memikirkan ke arah pernikahan. Dan bagi yang memikirkan pernikahan pun ada yang mau nikah dalam waktu dekat dan ada yang masih lama rencana nikahnya. Namun, persepsi umum dari pacaran adalah aktivitas intim (kedekatan) yang dilakukan 2 orang yang masih belum resmi menjadi suamu istri. Kedekatan itu bisa kedekatan secara fisik dan bisa jadi kedekatan komunikasi.
Banyak orang-orang yang berniat ta’aruf namun dalam prakteknya mereka berbuat aktivitas seperti layaknya orang pacaran. Sehingga niat menikah pun menjadi tertunda gara-gara mereka sudah merasa dekat, dan mereka puas dengan kedekatan itu sehingga tidak jadi memikirkan ke arah pernikahan.
Adapun perbedaan pacaran dengan ta’aruf yaitu:
1. Tujuan
- taaruf : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.
- pacaran : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah dan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat.
2. Kapan dimulai
- ta’aruf : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.
- pacaran : saat sudah diledek sama teman:”koq masih jomblo?”, atau saat butuh temen curhat, atau yang lebih parah saat taruhan dengan teman.
3. Pertemuan
- ta’aruf : pertemuan dilakukan sesuai dengan adab bertamu biasa, dirumah sang calon, atau ditempat pertemuan lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Dan frekunsi pertemuannya, lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dgn wanita kecuali bersama mahram.”
Hal itu krn tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga sebagaimana dlm hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir mk jangan sekali-kali dia berkhalwat dgn seorang wanita tanpa disertai mahram krn setan akan menyertai keduanya.”
Selama pertemuan pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan, kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.
Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah.
Adapun cara yang lebih syar’i untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
- pacaran : pertemuan yang dilakukan hanya berdua saja, pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa. Pertemuannya di rumah sang calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik dll. Frekuensi pertemuan lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu. Adapun yang dibicarakan cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.
4. Lamanya
- ta’aruf : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa sehari, seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
- pacaran : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.
5. Saat tidak ada kecocokan saat proses
- ta’aruf : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan harus cara yang baik dan menyebut alasannya.
- pacaran : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.
Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup.

Rabu, 26 Maret 2014

kala kau



17 March 2014                            
Dulu kau mengagumiku..
Tapi kala itu hatiku masih bergantung orang lain
Dan aku acuhkan perhatianmu
Hingga hari hari kulalui
Ketika aku akhirnya sendiri
Kenapa perasaan padamu hadir
Tapi kala itu kaulah yang bersama orang lain
Aku terlambat mengejarmu
Hingga sekarang saat tak ada lagi
Yang mengekang hati kita
Kenapa masih saja diam
Padahal kita tau hati kita
Apa perasaanmu tlah memudar
Apa kau tak percaya kesungguhanku ini
Aku hadir bukan karna kesepianku
Tapi karna hati yang menuntunku

Kamis, 13 Maret 2014

Goresan Pena Ayah




                Dunia ini terasa berhenti, ketika Zahra harus siap menerima kenyataan pahit, memiliki seorang Ayah dengan keadaan cacat. Keinginannya  mempunyai seorang  Ayah yang  lebih sempurna, seseorang yang tak cacat seperti Ayahnya semua orang. Seorang Ayah yang dapat mendengar harapannya dan kekhawatirannya.  Di rumah petaknya, Zahra tinggal bersama  Ayah dan adiknya, sesudah kematian ibunya beberapa tahun yang lalu.
            Zahra adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Gadis berjilbab , cantik, alim dan lumayan cerdas.Umurnya baru menginjak 17 tahun, duduk di sebuah sekolah islam kota Solo. Jabatan yang diembannya memaksanya untuk terus berpikir, bagaimana cara untuk mengubah keadaan ekonomi keluarga yang semakin parah, ditambah lagi Salma adiknya sudah menginjak kelas 4 Sekolah Dasar semakin banyak yang Salma butuhkan untuk melengkapi peralatan sekolahnya. Zahra dan Salma bisa melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan yang sekarang adalah karena kecerdasannya. Namun demikian tak membuat keduanya berpangku tangan. Terkadang terbesit untuk melanjutkan studynya di suatu universitas impiannya. Ya Impian. Yang selalu hanya impian. 6 huruf yang mempersulit hidupnya.
            Pagi ini seperti hari- hari biasanya, Zahra harus bangun pagi mempersiapkan sarapan untuk makan Ayah dan adiknya. Selain itu dia juga harus memandikan Ayahnya dan membereskan semua ruangan sebelum dia pergi menuntut ilmu. Ayahnya yang cacat dengan tangan yang hanya bisa digerakan membuatnya sulit mengetahui kemauanya. Perkataan yang keluar dari mulut Ayahnyapun tidak begitu jelas, sehingga dia meletakan selembar kertas dan sebatang pena yang digunankan Ayah untuk berkomunikasi.
            “ Sarapan sama apa kak pagi ini?” tanya Salma kepada kakaknya.
            “ Seadanya Sal, hanya ada nasi dan lauk tempe” jawab Zahra dengan sedih memandang adiknya.
            “ Ayah mau sarapan sekarang?” tanya Zahra.
Ayahnya pun hanya mengangguk dan menyodorkan secarik kertas kepada Zahra.
              Besok uang dari sekolahan jangan buat berobat Ayah tapi belikan Salma ayam goreng kesukaanya..
              Zahra dan Salma bebarengan membaca catatan dari Ayahnya.
              “ Tidak usah Ayah.. lauk tempe saja udah cukup kok” ucap Salma  memeluk Ayahnya yang hanya bisa berbaring di tempat tidurnya.
             

              Sebelum berangkat sekolah Zahra menyiapkan semua perlengkapan untuk Ayahnya. Dan merekapun berpamitan. Seperti biasa Ayah Zahra menyerahkan kertas kusamnya.
              Hati- hati di jalan nak.. belajar yang tekun biar kelak jadi anak yang selalu berguna untuk Ayah dan orang lain. Ayah selalu mendoakan kalian dimanapun kalian berada.
Ayah di rumah akan baik- baik saja.
              Zahra dan Salma memeluk Ayah tercintanya.Mereka sebenarnya tak begitu tega meninggalkan Ayahnya sendiri di rumah, namun Ayah tetap memaksa agar mereka harus terus sekolah.
              Waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang seperempat sudah saatnya Zahra dan Salma berangkat ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah sekitar 2 km. Tidak seperti teman-temannya yang diantar orangtuanya namun kedua gadis ini berangkat dengan mengayuh sepeda tua milik Ayah yang dulu dipakai sebelum jatuh sakit.
              Sesampai di sekolah Zahra mengikuti pelajaran dengan seksama. Zahra yang selalu menduduki peringkat pertama di sekolahnya membuat guru- guru sangat bangga denganya.Dan karena prestasi yang di dapat membuatnya memperoleh beasiswa sekolah, yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
              Teeeet…teeeetttt… jam istirahat berbunyi, semua siswa keluar kelas untuk menuju ke kantin. Tidak sama dengan Zahra yang hanya duduk di kelas menunggu bel masuk berbunyi.
Tiba tiba Aulia menghampiri Zahra.
              “ Ra kamu dipanggail Bu Nasiah tuuh…” kata Aulia sambil makan batagor.
              “ oh iya.. dimana?” tanya Zahra
              “ Di kantor guru, taukan mejanya Bu Nasiah?”
              “ Iyaa makasih, Aku segera kesana” jawab Zahra meninggalkan Aulia di kelas.
              Zahrapun berjalan menyusuri koridor sekolah sambil memberikan senyuman manis kepada teman yang dia temui. Sesampainya di kantor dia mencari meja Bu Nasiah dan menghampirinya.
              “ Assalamualaikum Bu…” sapa Zahra kepada wali kelasnya.
              “ Waalaikumsalam Zahra, gimana Bapak sehat?” tanya Bu Nasiah dengan senyumannya.
             
              “ Alhamdulilah Bu sehat, Ibu memanggil saya?” ucap Zahra
              “ Ibu disuruh oleh kepala sekolah untuk memberikan ini untuk kamu. “ Bu Nasiah menyodorkan amplop putihnya ke Zahra.
              “Terimakasih banyak Bu..” balas Zahra sambil menerima amplopnya dan menyalaminya.
              Bel tanda selesainya istirahat berbunyi. Zahrapun berpamitan untuk segera masuk ke ruang kelas. Pelajaranpun di mulai kembali.
               Tak terasa waktu sekolah telah selesai. Semua siswa berlarian menuju pintu gerbang menunggu jemputan orang tua. Begitu juga dengan Salma yang sudah menunggu kakakanya di samping sepeda tuanya. merekapun pulang bersama.
              “ Loh kak, kok arahnya kesini? Kita kan belok kanan?” tanya  Salma penasaran.
              “ Coba tebak kita mau kemana?” tanya Zahra.
              “ Ke pasar yaa kak?” Salma mencoba menebak.
              “ Seratus…..” senyum Zahra memberikan nilai untuk adiknya.
              Sampai di pasar sepedanya pun di sandarkan di dekat pintu masuk pasar. Mereka mencari ayam potong dan bumbu untuk membuat ayam goreng kesukaan Salma. Salma begitu semangat menyusuri deretan pedagang di pasar. Setelah semua di beli tak lupa mereka membeli obat untuk Ayahnya. Dan perjalanan pulangpun di lalui.
              Di rumah mereka langsung menghampiri Ayahnya yang sudah menyiapkan sarung dan pecinya. Zahra segera ganti baju dan bergegas membawa air wudu untuk Ayahnya. Sedangkan Salma menyiapkan makanan untuk makan siang.
              Selesai wudu Ayah menyodorkan selembar catatan untuk Zahra
Kamu ambil air wudu ajak Salma untuk solat dzuhur berjamaah selesai solat kita makan bersama
Zahra dan Salma segera mematuhi perintah Ayahnya. Mereka bergegas mengambil air wudu dan melaksanakan solat. Selesai solat Zahra menyiapkan makanan untuk Ayah.
Ketika makan Ayahnya terkejut melihat lauk ayam goreng yang sudah di masak Salma. Ayahnyapun  menulis catatan untuk kedua gadisnya
Uang dari sekolah disimpan kamu aja Ra, di pakai buat keperluan kamu dan Salma.

  Zahra menjawab catatan Ayah “ Iyaa Ayah.. tadi Zahra juga udah beli obat buat Ayah sisa uang udah Zahra simpan di lemari untuk keperluan sehari-hari”.
Salma, Zahra, dan Ayahnya melahap makan siangnya dengan lauk ayam goreng yang hanya bisa di beli ketika mendapat uang dari sekolahnya. Selesai makan mereka beristirahat tak lupa Zahra memberikan obat untuk Ayahnya.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, mereka di bangunkan oleh kumandang adzan asar. Zahra bergegas memandikan Ayah dan merapikan ruangan rumah. Salma pergi mengaji di surau dekat rumahnya.
“ Salma pamit berangakat ngaji dulu Ayah..” pamit Salma kepada Ayahnya
Ayah Salma hanya mengangguk tanda setuju dan tersenyum.
Hari hari yang dilalui keluarga Zahra begitu bahagia walaupun keadaanya kurang mencukupi. Zahra hanya bisa bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada keluarganya. Melihat sang Ayah yang hanya bisa  berbaring di tempat tidur membuatnya merasa iba. Telah berbagai usaha yang dilakukan untuk mengobatinya namun semua nihil.
Di tengah malam  ketika Zahra dan Salma sedang tertidur lelap Ayahnya menulis catatan di kertasnya. Dan disepertiga malam Zahra dan Ayahnya bangun untuk meminta dan memuji ke AgunganNya.
“ Kak jam berapa sekarang?” tanya Salma dengan mata sembab.
“ Jam tiga pagi, ayoo bangun ambil wudu..” pinta Zahra
“ Hari ini Salma libur dulu yaa kaak” ucap Salma memancal slimut kembali dalam tidurnya.
Ayah dan Zahrapun memandang tersenyum. Zahra kembali melakukan dialognya kepada Tuhan untuk semua permohonannya. Dalam hati Zahra berdoa..
Ya Allah, Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Tolonglah kami agar kami mengerti, menerima, percaya,
Memaafkan dan dimaafkan.
Memberi dan menerima, mencintai dan dicintai
Serta berani menatap jauh kedepan untuk kehidupan yang lebih baik
Lebih indah dan membahagiakan

Hari ini Jumat 22 Juni 2012. Matahari mulai muncul mengeluarkan cahayanya. Meyinari kegelapan bumi dan menjadikanya terang. Tanda aktifitas manusia mulai di lalui. Tiba- tiba Ayah Zahra menyodorkan catatan setelah selesai di mandikan.
Zahra pakaikan Ayah baju putih pemberian Ibu, hari ini Ayah sangat rindu Ibu
“ iyaa Ayah.. Zahra juga selalu rindu Ibu..” ucap Zahra meneteskan air mata.
“ Salma.. tolong ambilkan Ayah baju koko putih yang ada di lemari” pinta Zahra.
“ Iyaa kak…”  jawab Salma dengan mencari baju koko putih di tumpukan baju dilemari.
Tak terasa jam dinding di rumahnya menunjukan pukul tujuh kurang seperempat. Waktunya Zahra dan Salma berpamitan meninggalkan Ayah untuk menimba ilmu. Sepeda tuanya sudah siap membawa ke sekolahan. Sebelum berangkat Ayahnya menyodorkan secarik kertas untuk kedua putrinya.
Hati – hati di jalan. Zahra jaga Salma yaa..
Ayah rindu Ibu
Zahra dan Salma memeluk Ayah karena terharu.
              “ Kami juga rindu Ibu  Yah…,, kami berangkat sekolah dulu ya Yah,Ayah baik- baik di rumah..”.
              Sesampai di sekolahan ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas, tiba- tiba seluruh ruangan kelas bergetar dan semua gambar di dinding kelas bergoyang. Siswa yang ada di kelaspun keluar dengan panik. Zahra sangat takut dengan keadaan Ayahnya di rumah. Dia tak mempedulikan keadaan di sekolah. Dan dia langsung mencari sepeda untuk segera pulang. Bu Nasiah menahan Zahra untuk tetap tenang di sekolah namun Zahra bersikeras meninggalkan sekolah karena mengingat Ayahnya.
              Zahra dengan kecepatan tinggi mengayuh sepeda dan sampailah di depan rumahnya. Dia langsung menuju kamar Ayah dan melihat Ayah nya yang sudah berbaring di lantai kamarnya.
              “ Ayaahhhh…….!!!!!!!!” Jerit Zahra mendekap Ayahnya.
              Tiba- tiba Salma  berlarian menuju rumah. Setelah tau keadaanya dia pun menangis mencoba membangunkan Ayah.
              “ Ayah.. bangun….  jangan tinggalin Salma…!!!” isak Salma.
             
              “ innalillahi wa inna iliaihi rooji’uun…”
              Semua tetangga mendatangi rumah Zahra, dan mengurus jenazah almarhum Ayahnya.
Setelah semua proses pemakaman selesai, Zahra dan Salma mulai membereskan semua ruangan rumah yang rusak karena gempa. Ketika sedang membersihkan kamar Ayah, Salma menemukan secarik kertas catatan Ayahnya. Mereka membacanya bersama..
              Zahra…. Salma.. maafin Ayah sudah merepotkan kalian..
`         kalian adalah anak yang paling Ayah banggakan
           Jaga sholat dan iman kalian
           Hadapi hidup dengan senyuman
           Ayah percaya kelak kalian akan menjemput kebahagiaan..
           Ayah pergi menyusul Ibu..  
  Doakan terus Ayah dan Ibu yaa..
  Genangan air mata seakan tumpah di pipi kedua ganis itu. Kematian Ayahnya yang begitu cepat membuat mereka sadar bahwa Ayahlah segalanya. Kini Zahra  menjalani hidup hanya dengan Salma. Hari- hari berbalut kesedihan dan luka mendalam. Namun mereka yakin Tuhan akan menurunkan seorang malaikat yang akan menemani dan membuat tawa bahagia untuk hari esok dan seterusnya. 












                                                                                                                                                           

senyumku

bahagia...
kini bibirku tak lagi ku bungkam
bahagia karna hati yang kurasakan berbeda
ingin selalu tersenyum
saat benakku mengingatmu
apa aku jatuh cinta..
ingin terus kumelihatmu
tapi jarak tak merestui
anganku kosong
karna slalu diselimuti bayangmu
apa ini jawaban Tuhan
untuk dua rakaat istiharahkuu..

Sabtu, 18 Januari 2014

iman hati



Rintik hujan sore hari..
Basahi bunga mekar ..
Bunga yang tersenyum senang karna  kesejukan.
sungguh inikah kehidupan??
Dikala akku bersedih
Saat pipi basah karna tetesan air mata
Hingga kini rahasia apakah  di balik kesedihanku
Teka teki kehidupan yang belum kutemukan
            Aku percaya saat pelangi indah
            Muncul setelah derasnya air hujan
            Karnanya akupun yakin
            Bahwa kesedihan ini
            Pasti terbalas kebahagiaan