Dunia
ini terasa berhenti, ketika Zahra harus siap menerima kenyataan pahit, memiliki
seorang Ayah dengan keadaan cacat. Keinginannya
mempunyai seorang Ayah yang lebih sempurna, seseorang yang tak cacat
seperti Ayahnya semua orang. Seorang Ayah yang dapat mendengar harapannya dan
kekhawatirannya. Di rumah petaknya,
Zahra tinggal bersama Ayah dan adiknya,
sesudah kematian ibunya beberapa tahun yang lalu.
Zahra adalah
anak pertama dari 2 bersaudara. Gadis berjilbab , cantik, alim dan lumayan
cerdas.Umurnya baru menginjak 17 tahun, duduk di sebuah sekolah islam kota
Solo. Jabatan yang diembannya memaksanya untuk terus berpikir, bagaimana cara
untuk mengubah keadaan ekonomi keluarga yang semakin parah, ditambah lagi Salma
adiknya sudah menginjak kelas 4 Sekolah Dasar semakin banyak yang Salma
butuhkan untuk melengkapi peralatan sekolahnya. Zahra dan Salma bisa
melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan yang sekarang adalah karena
kecerdasannya. Namun demikian tak membuat keduanya berpangku tangan. Terkadang
terbesit untuk melanjutkan studynya di suatu universitas impiannya. Ya Impian.
Yang selalu hanya impian. 6 huruf yang mempersulit hidupnya.
Pagi ini
seperti hari- hari biasanya, Zahra harus bangun pagi mempersiapkan sarapan
untuk makan Ayah dan adiknya. Selain itu dia juga harus memandikan Ayahnya dan
membereskan semua ruangan sebelum dia pergi menuntut ilmu. Ayahnya yang cacat
dengan tangan yang hanya bisa digerakan membuatnya sulit mengetahui kemauanya.
Perkataan yang keluar dari mulut Ayahnyapun tidak begitu jelas, sehingga dia
meletakan selembar kertas dan sebatang pena yang digunankan Ayah untuk
berkomunikasi.
“ Sarapan sama apa
kak pagi ini?” tanya Salma kepada kakaknya.
“ Seadanya Sal,
hanya ada nasi dan lauk tempe” jawab Zahra dengan sedih memandang adiknya.
“ Ayah mau sarapan
sekarang?” tanya Zahra.
Ayahnya pun hanya mengangguk dan menyodorkan secarik kertas kepada
Zahra.
Besok
uang dari sekolahan jangan buat berobat Ayah tapi belikan Salma ayam goreng
kesukaanya..
Zahra dan Salma bebarengan membaca
catatan dari Ayahnya.
“
Tidak usah Ayah.. lauk tempe saja udah cukup kok” ucap Salma memeluk Ayahnya yang hanya bisa berbaring di
tempat tidurnya.
Sebelum
berangkat sekolah Zahra menyiapkan semua perlengkapan untuk Ayahnya. Dan
merekapun berpamitan. Seperti biasa Ayah Zahra menyerahkan kertas kusamnya.
Hati-
hati di jalan nak.. belajar yang tekun biar kelak jadi anak yang selalu berguna
untuk Ayah dan orang lain. Ayah selalu mendoakan kalian dimanapun kalian
berada.
Ayah
di rumah akan baik- baik saja.
Zahra
dan Salma memeluk Ayah tercintanya.Mereka sebenarnya tak begitu tega meninggalkan
Ayahnya sendiri di rumah, namun Ayah tetap memaksa agar mereka harus terus
sekolah.
Waktu
sudah menunjukan pukul tujuh kurang seperempat sudah saatnya Zahra dan Salma
berangkat ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah sekitar 2 km. Tidak seperti
teman-temannya yang diantar orangtuanya namun kedua gadis ini berangkat dengan
mengayuh sepeda tua milik Ayah yang dulu dipakai sebelum jatuh sakit.
Sesampai
di sekolah Zahra mengikuti pelajaran dengan seksama. Zahra yang selalu
menduduki peringkat pertama di sekolahnya membuat guru- guru sangat bangga
denganya.Dan karena prestasi yang di dapat membuatnya memperoleh beasiswa
sekolah, yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
Teeeet…teeeetttt…
jam istirahat berbunyi, semua siswa keluar kelas untuk menuju ke kantin. Tidak
sama dengan Zahra yang hanya duduk di kelas menunggu bel masuk berbunyi.
Tiba tiba Aulia menghampiri Zahra.
“
Ra kamu dipanggail Bu Nasiah tuuh…” kata Aulia sambil makan batagor.
“
oh iya.. dimana?” tanya Zahra
“
Di kantor guru, taukan mejanya Bu Nasiah?”
“
Iyaa makasih, Aku segera kesana” jawab Zahra meninggalkan Aulia di kelas.
Zahrapun
berjalan menyusuri koridor sekolah sambil memberikan senyuman manis kepada
teman yang dia temui. Sesampainya di kantor dia mencari meja Bu Nasiah dan
menghampirinya.
“
Assalamualaikum Bu…” sapa Zahra kepada wali kelasnya.
“
Waalaikumsalam Zahra, gimana Bapak sehat?” tanya Bu Nasiah dengan senyumannya.
“
Alhamdulilah Bu sehat, Ibu memanggil saya?” ucap Zahra
“
Ibu disuruh oleh kepala sekolah untuk memberikan ini untuk kamu. “ Bu Nasiah
menyodorkan amplop putihnya ke Zahra.
“Terimakasih
banyak Bu..” balas Zahra sambil menerima amplopnya dan menyalaminya.
Bel
tanda selesainya istirahat berbunyi. Zahrapun berpamitan untuk segera masuk ke
ruang kelas. Pelajaranpun di mulai kembali.
Tak terasa waktu sekolah telah selesai. Semua
siswa berlarian menuju pintu gerbang menunggu jemputan orang tua. Begitu juga
dengan Salma yang sudah menunggu kakakanya di samping sepeda tuanya. merekapun
pulang bersama.
“
Loh kak, kok arahnya kesini? Kita kan belok kanan?” tanya Salma penasaran.
“
Coba tebak kita mau kemana?” tanya Zahra.
“
Ke pasar yaa kak?” Salma mencoba menebak.
“
Seratus…..” senyum Zahra memberikan nilai untuk adiknya.
Sampai
di pasar sepedanya pun di sandarkan di dekat pintu masuk pasar. Mereka mencari
ayam potong dan bumbu untuk membuat ayam goreng kesukaan Salma. Salma begitu
semangat menyusuri deretan pedagang di pasar. Setelah semua di beli tak lupa
mereka membeli obat untuk Ayahnya. Dan perjalanan pulangpun di lalui.
Di
rumah mereka langsung menghampiri Ayahnya yang sudah menyiapkan sarung dan
pecinya. Zahra segera ganti baju dan bergegas membawa air wudu untuk Ayahnya.
Sedangkan Salma menyiapkan makanan untuk makan siang.
Selesai
wudu Ayah menyodorkan selembar catatan untuk Zahra
Kamu
ambil air wudu ajak Salma untuk solat dzuhur berjamaah selesai solat kita makan
bersama
Zahra dan Salma segera mematuhi
perintah Ayahnya. Mereka bergegas mengambil air wudu dan melaksanakan solat.
Selesai solat Zahra menyiapkan makanan untuk Ayah.
Ketika makan Ayahnya terkejut
melihat lauk ayam goreng yang sudah di masak Salma. Ayahnyapun menulis catatan untuk kedua gadisnya
Uang
dari sekolah disimpan kamu aja Ra, di pakai buat keperluan kamu dan Salma.
Zahra
menjawab catatan Ayah “ Iyaa Ayah.. tadi Zahra juga udah beli obat buat Ayah
sisa uang udah Zahra simpan di lemari untuk keperluan sehari-hari”.
Salma, Zahra, dan Ayahnya melahap
makan siangnya dengan lauk ayam goreng yang hanya bisa di beli ketika mendapat
uang dari sekolahnya. Selesai makan mereka beristirahat tak lupa Zahra
memberikan obat untuk Ayahnya.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga
sore, mereka di bangunkan oleh kumandang adzan asar. Zahra bergegas memandikan
Ayah dan merapikan ruangan rumah. Salma pergi mengaji di surau dekat rumahnya.
“ Salma pamit berangakat ngaji dulu
Ayah..” pamit Salma kepada Ayahnya
Ayah Salma hanya mengangguk tanda
setuju dan tersenyum.
Hari hari yang dilalui keluarga
Zahra begitu bahagia walaupun keadaanya kurang mencukupi. Zahra hanya bisa
bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada keluarganya. Melihat sang
Ayah yang hanya bisa berbaring di tempat
tidur membuatnya merasa iba. Telah berbagai usaha yang dilakukan untuk
mengobatinya namun semua nihil.
Di tengah malam ketika Zahra dan Salma sedang tertidur lelap
Ayahnya menulis catatan di kertasnya. Dan disepertiga malam Zahra dan Ayahnya
bangun untuk meminta dan memuji ke AgunganNya.
“ Kak jam berapa sekarang?” tanya
Salma dengan mata sembab.
“ Jam tiga pagi, ayoo bangun ambil
wudu..” pinta Zahra
“ Hari ini Salma libur dulu yaa
kaak” ucap Salma memancal slimut kembali dalam tidurnya.
Ayah dan Zahrapun memandang
tersenyum. Zahra kembali melakukan dialognya kepada Tuhan untuk semua
permohonannya. Dalam hati Zahra berdoa..
Ya
Allah, Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Tolonglah
kami agar kami mengerti, menerima, percaya,
Memaafkan
dan dimaafkan.
Memberi
dan menerima, mencintai dan dicintai
Serta
berani menatap jauh kedepan untuk kehidupan yang lebih baik
Lebih
indah dan membahagiakan
Hari ini Jumat 22 Juni 2012.
Matahari mulai muncul mengeluarkan cahayanya. Meyinari kegelapan bumi dan
menjadikanya terang. Tanda aktifitas manusia mulai di lalui. Tiba- tiba Ayah
Zahra menyodorkan catatan setelah selesai di mandikan.
Zahra
pakaikan Ayah baju putih pemberian Ibu, hari ini Ayah sangat rindu Ibu
“ iyaa Ayah.. Zahra juga selalu
rindu Ibu..” ucap Zahra meneteskan air mata.
“ Salma.. tolong ambilkan Ayah baju
koko putih yang ada di lemari” pinta Zahra.
“ Iyaa kak…” jawab Salma dengan mencari baju koko putih di
tumpukan baju dilemari.
Tak terasa jam dinding di rumahnya
menunjukan pukul tujuh kurang seperempat. Waktunya Zahra dan Salma berpamitan
meninggalkan Ayah untuk menimba ilmu. Sepeda tuanya sudah siap membawa ke
sekolahan. Sebelum berangkat Ayahnya menyodorkan secarik kertas untuk kedua
putrinya.
Hati
– hati di jalan. Zahra jaga Salma yaa..
Ayah
rindu Ibu
Zahra dan Salma memeluk Ayah karena
terharu.
“
Kami juga rindu Ibu Yah…,, kami
berangkat sekolah dulu ya Yah,Ayah baik- baik di rumah..”.
Sesampai
di sekolahan ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas, tiba- tiba seluruh
ruangan kelas bergetar dan semua gambar di dinding kelas bergoyang. Siswa yang
ada di kelaspun keluar dengan panik. Zahra sangat takut dengan keadaan Ayahnya
di rumah. Dia tak mempedulikan keadaan di sekolah. Dan dia langsung mencari
sepeda untuk segera pulang. Bu Nasiah menahan Zahra untuk tetap tenang di
sekolah namun Zahra bersikeras meninggalkan sekolah karena mengingat Ayahnya.
Zahra
dengan kecepatan tinggi mengayuh sepeda dan sampailah di depan rumahnya. Dia
langsung menuju kamar Ayah dan melihat Ayah nya yang sudah berbaring di lantai
kamarnya.
“
Ayaahhhh…….!!!!!!!!” Jerit Zahra mendekap Ayahnya.
Tiba-
tiba Salma berlarian menuju rumah.
Setelah tau keadaanya dia pun menangis mencoba membangunkan Ayah.
“
Ayah.. bangun…. jangan tinggalin
Salma…!!!” isak Salma.
“
innalillahi wa inna iliaihi rooji’uun…”
Semua
tetangga mendatangi rumah Zahra, dan mengurus jenazah almarhum Ayahnya.
Setelah semua proses pemakaman
selesai, Zahra dan Salma mulai membereskan semua ruangan rumah yang rusak
karena gempa. Ketika sedang membersihkan kamar Ayah, Salma menemukan secarik
kertas catatan Ayahnya. Mereka membacanya bersama..
Zahra….
Salma.. maafin Ayah sudah merepotkan kalian..
` kalian adalah anak yang paling Ayah
banggakan
Jaga sholat dan iman kalian
Hadapi hidup dengan senyuman
Ayah percaya kelak kalian akan
menjemput kebahagiaan..
Ayah pergi menyusul Ibu..
Doakan terus Ayah dan Ibu yaa..
Genangan
air mata seakan tumpah di pipi kedua ganis itu. Kematian Ayahnya yang begitu
cepat membuat mereka sadar bahwa Ayahlah segalanya. Kini Zahra menjalani hidup hanya dengan Salma. Hari-
hari berbalut kesedihan dan luka mendalam. Namun mereka yakin Tuhan akan
menurunkan seorang malaikat yang akan menemani dan membuat tawa bahagia untuk
hari esok dan seterusnya.